BREAKING NEWS

Karhutla Tak Hanya Membakar Lahan, 1.267 Warga Barito Timur Menderita ISPA



TAMIANG LAYANG, sinarborneonews.com – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, pada Sabtu, 12 September 2026. Kondisinya bahkan terasa semakin pekat sejak sekitar pukul 15.00 WIB, ketika asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan di ibu kota kabupaten tersebut.

Fenomena itu menjadi gambaran nyata di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Barito Timur. Namun, persoalan yang ditimbulkan karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Kabut asap yang dihasilkan juga telah berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengonfirmasi bahwa sebanyak 1.267 warga tercatat menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap/karhutla.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Data (SIPD) BPBD Damkar Barito Timur yang diperbarui pada Sabtu, 12 September 2026 pukul 16.44 WIB, mencatat terdapat 195 kejadian dengan jumlah warga terdampak mencapai 1.267 jiwa.

Angka tersebut menempatkan dampak kesehatan sebagai salah satu sisi paling serius dari karhutla yang terjadi sepanjang musim kemarau. Jika api meninggalkan jejak pada lahan, asapnya membawa persoalan ke ruang yang jauh lebih dekat dengan masyarakat, yakni udara yang setiap hari dihirup.

Pada hari yang sama, skala karhutla di Barito Timur telah mencapai 430 kejadian dengan total luas lahan terbakar mencapai 525,5 hektare. Api tersebar di seluruh 10 kecamatan yang tercatat dalam data BPBD Damkar.

Paju Epat menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni 98 kejadian, dengan luas lahan terbakar mencapai 117,7 hektare. Tingginya jumlah kejadian menunjukkan wilayah tersebut menjadi salah satu titik yang paling sering menghadapi kebakaran selama periode pencatatan.

Di Pematang Karau, tercatat 91 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 144,8 hektare. Dari sisi luasan, angka tersebut menjadi yang terbesar di antara seluruh kecamatan dalam tabel BPBD Damkar.

Selanjutnya, Karusen Janang mencatat 71 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar 82,2 hektare. Kemudian Dusun Timur mencatat 67 kejadian dengan luas lahan terbakar 57,7 hektare.

Sementara Paku mencatat 39 kejadian dengan luas lahan terbakar 17,4 hektare. Dusun Tengah mencatat 16 kejadian dengan luas 8,3 hektare, sedangkan Awang mencatat 15 kejadian dengan luas lahan terbakar 12,3 hektare.

Di Raren Batuah, tercatat 15 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar 3,5 hektare. Patangkep Tutui mencatat 13 kejadian, tetapi luas lahannya yang terbakar mencapai 68,8 hektare.

Adapun Benua Lima mencatat jumlah kejadian paling sedikit, yakni lima kejadian, dengan luas lahan terbakar mencapai 13,3 hektare.

Jika seluruh wilayah tersebut dihimpun, terdapat 430 kejadian karhutla yang tersebar di 10 kecamatan. Dashboard BPBD Damkar mencatat total luas lahan terbakar sebesar 525,5 hektare.

Karhutla paling banyak terjadi pada Agustus. Dalam satu bulan tersebut, tercatat 342 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 405,3 hektare. Memasuki September, ancaman kebakaran masih berlanjut. Hingga Sabtu, 12 September 2026, tercatat 38 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 68 hektare.

Artinya, hanya dalam rentang Agustus hingga 12 September, terdapat 380 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar sekitar 473,3 hektare. Angka ini memperlihatkan betapa berat tekanan musim kemarau terhadap wilayah Barito Timur.

Persoalan semakin kompleks ketika asap hasil kebakaran berkorelasi dengan memburuknya kondisi udara. Data BPBD Damkar mencatat rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tujuh hari terakhir mencapai 308,5, yang berada dalam kategori berbahaya.

Kabut asap yang semakin pekat di Tamiang Layang pada Sabtu sore menjadi gambaran kasatmata dari kondisi tersebut. Di tengah aktivitas masyarakat yang masih berlangsung, asap hadir sebagai bagian dari konsekuensi kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.

Dampaknya terhadap kesehatan pun telah tercatat. Sebanyak 1.267 warga menderita ISPA akibat kabut asap/karhutla, berdasarkan konfirmasi Parluhutan Tampubolon. Angka itu menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak semata-mata dapat diukur dari jumlah titik kebakaran atau hektare lahan yang hangus.

Di sisi lain, kemarau juga menghadirkan persoalan kebutuhan dasar. Hingga Sabtu, 12 September 2026, BPBD Damkar mencatat distribusi 13.200 liter air bersih kepada 252 kepala keluarga (KK) yang membutuhkan.

Dengan demikian, satu rangkaian data menggambarkan wajah kemarau Barito Timur dari berbagai sisi. Ada ratusan kejadian karhutla, ratusan hektare lahan terbakar, kualitas udara yang masuk kategori berbahaya, ribuan warga yang terdampak ISPA, hingga masyarakat yang membutuhkan pasokan air bersih.

Karhutla akhirnya bukan hanya tentang api yang membakar semak, pepohonan atau lahan terbuka. Di balik kepulan asap yang menggelayut di atas Tamiang Layang dan wilayah lainnya, terdapat persoalan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, udara yang dihirup dan kesehatan yang dipertaruhkan.

Ketika kabut asap kembali menebal pada Sabtu sore, angka-angka dalam laporan BPBD Damkar seolah menemukan gambaran nyatanya. 1.267 penderita ISPA bukan lagi sekadar statistik, melainkan penanda bahwa dampak karhutla telah bergerak dari bentang lahan menuju ruang hidup masyarakat Barito Timur. (Red).
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar